Perjalanan Mistis Enam Pendaki Gunung Malabar, Tersesat Empat Jam, Nggak Taunya Tiga Hari

Perjalanan Mistis Enam Pendaki Gunung Malabar, Tersesat Empat Jam, Nggak Taunya Tiga Hari

TANDA-BACA.CO.ID – Perjalanan Mistis dialami enam pendaki remaja gegara nekat naik Gunung Malabar, malam Jumat, beberapa waktu lalu.

Akibatnya enam pendaki sompral ini kesasar masuk alam gaib, beruntung mereka selamat tanpa kurang satu apapun. Mereka adalah,  Apriandhika alias pokis Agan, Adul, Irgi, Kipod dan Amat..

Gegara masuk alam gaib itulah, keenam pendaki remaja ini bukannya merasakan sensasi indahnya alam, dan damainya berada di ketinggian, tetapi sebaliknya.

Keenam pendaki sompral ini justru, seperti berada di lingkungan yang tidak nyaman, yang belum pernah dirasakannya. Entah itu apa?

Pokis, satu dari enam pendaki itu saat berkisah di akun youtube RJL5 Fajar Aditya #OMMamat mengaku tidak bisa menjabarkan alam seperti apa alam yang telah dimasukinya itu.

Pokis Cs,, naik Gunung Malabar Kamis 20 Juni 2019, turun Minggu 23 Juni 2022, tetapi keenam-enamnya merasa hanya berada di atas, selama satu malam saja, tour and travel gratis.

Pokis, mengakui waktu tempuhnya naik gunung Malabar memang molor, tetapi hanya sekitar 4 jam saja.

Naik sekitar pukul 18.30 WIB tiba di puncak besar jam 02.37 WIB, seharusnya jam 22.30 WIB sudah sampai di puncak besar.

Perjalanannya pun sangat menegangkan terus diiringi bunyi lolongan anjing, bunyi besi dipukulan besi –seperti pukulan ronda.

Selain itu juga ada bunyi motor yang tengah dipanaskan. Dan kanan kiri jalan diterangi kunang-kunang.

Bertemu dengan, –diduga sosok muda mudi yang beberapa hari sebelumnya bunuh diri, tetapi bunuh dirinya sendiri sendiri, alias beda hari.

Bunyi-bunyian itu terus mengiringi perjalanan mereka. Bertemu kakek tua, minta rokok, bertemu sosok hantu wanita dan lain sebagainya.

Jalan yang dilalui juga tidak mudah, kadang ditutupi ranting pohon yang membentuk goa, untuk melewatinya harus jongkok atau merayap.

Bahkan ada juga jalan tertutup –mirip bambu kuning –tetapi batangnya lebih kecil lagi. Bambu kuning itu juga membentuk goa dan bila ingin melewatinya harus jongkok atau merayap.

Berputar di jalan yang itu itu saja juga dirasakan, hal itu baru diketahui setelah rombongan menancapkan kayu yang telah dikikis. Setelah itu, mereka duduk dan berdoa.

Tidak bertemu pos 2 dan 3. Pos 1 setelah itu pos 4 palsu, pos 4 asli baru ditemui beberapa saat kemudian.

Yang tidak kalah menegangkan, jalan tiba-tiba hilang terhalang batu besar yang sudah berlumut.

Karena tidak bisa jalan, rombongan akhirnya cari jalan lain tetapi tidak ada, jalan satu-satunya adalah jalan disamping batu besar yang harus dilalui dengan berpegangan pada ranting-ranting mirip climbing.

Setelah itu baru bertemu puncak besar. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 02.37 WIB. Atau molor sekitar 4 jam.

Jam 09.00 WIB rombongan memutuskan untuk turun. Batu penghalang jalan tidak ditemukan lagi.

Jalan disebelah batu besar yang dilewati semalam sebelum tiba di puncak besar ternyata jurang yang sangat dalam.

“Nggak tahu, kenapa bisa lewat,” kata Pokis.

Tak terasa sampai di Pos 4, setelah itu coba cari pos 4 palsu tetapi tidak ditemukan, anggota rombongan pernah meninggalkan sampah.

Nggak jauh dari pos 4 ternyata sudah tiba di batu besar cepar yang semalam menyemburkan bau yang sangat busuk, mirip bau belerang.

Jam 10.00 WIB sudah sampai di area perkebunan, tempat dimana rombongan bertemu anjing yang menyalak.

Sebelum ketempat penitipan kendaraan, rombongan mampir ke warung, untuk ngopi sambil merokok, sambil ngobrol dengan warga sekitar.

Gegara Irgi minta temannya bergegas, agar tidak tertinggal sholat Jumat, baru akhirnya terkuak bahwa hari itu adalah hari Minggu, bukan Jumat seperti perkiraan mereka.

Pemilik warung selanjutnya membawa mereka kerumah dan diberikan air putih, separuh untuk diminum separuhnya lagi untuk mandi.***

Wisata