Pandemi Covid-19, Apakah Pernikahan Virtual Sah?

Pandemi Covid-19, Apakah Pernikahan Virtual Sah?

TANDA-BACA.CO.ID – Di tengah pandemi virus corona merebak pernikahan virtual. Bahkan, di Yogyakarta ramai pernikahan virtual menggunakan green screen, makanan dan souvenirnya diantar pakai ojek online (ojol). Sah kah pernikahan secara virtual dalam Islam?

Pembina Yayasan Cakrawala Insan Qur’ani (YCIQ) Jakarta, Ustadz H. Dedy Martoni, S.Pd, M.Si memaparkan, sebagian ulama melarang cara nikah secara online atau virtual. Sebab, mirip dengan ketiadaan saksi dalam akad.

Selain itu, juga cukup bahaya dan rentan terjadi penipuan dan penyalahgunaan. Misal fatwa Al Lajnah ad Daimah (18/90) kerajaan Arab Saudi, juga keputusan Majma’ Fiqih al Islami No. 52, yang melarang nikah virtual demi kehati-hatian (ihtiyathan).

Namun, sambung Ustadz H. Dedy Martoni, ada pula ulama yang membolehkan. Jika pernikahan online tersebut telah memenuhi semua syarat atau rukun pernikahan. Mereka semua ada, terlihat, walau pakai video secara waktu bersamaan, baik dua pengantennya, walinya, serta dua saksi, tidak ada kepalsuan, maka itu sah dan boleh. Apalagi mereka bisa saling melihat dengan media live streaming. Itu sudah semakna dengan maksud “satu majelis.”

“Karena tujuan adanya satu majelis adalah agar adanya kejelasan, jika kejelasan semua itu bisa terwujud dengan media ini (online) maka itu sudah cukup,” jelasnya.

Ustadz H. Dedy memaparkan, jaman Nabi Muhammad SAW tidak ada pernikahan secara online. Tapi jika mewakilkan pernikahan, ada. Kala itu Nabi menikah dengan Ummu Habibah diwakilkan oleh Taja Najasyi, karena saat itu Ummu Habibah ada di Najasyi.

Ustadz H. Dedy juga menyarankan, karena nikah virtual yang bisa jadi membuat biaya minimalis maka diharapkan nikah virtual tersebut tetap berlangsung di kantor KUA. Selain itu pernikahannya harus yang rukun-rukun saja. Diharapkan pasangan nikah virtual bisa langgeng hingga akhir hayat atau sakinah, mawah warohmah.
Ijab Qabul

Sementara itu, Pimpinan Majlis Ta’lim Was Sholawat An Nur, Purwakarta, Jawa Barat, Ustadz Anugrah Sam Sopian mengatakan, jika bicara sah tidaknya nikah virtual tentunya dalam masalaha fiqih akan selalu ada ikhtilaf/perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Akan tetapi dalam fiqih-fiqih klasik syarat lain dari ijab qabul ialah harus dilakukan dalam satu majelis, satu ruangan, bertatap muka, tanpa ada penghalang.

Bahkan banyak para ulama yang tegas melarang pernikahan dengan secara virtual, dengan alasan, pernikahan adalah akad yang sakral bukan sekadar muamalah biasa. Sehingga perlu dihadiri secara langsung oleh kedua belah pihak di ruangan yang sama. Selain itu, ijab qabul itu antara calon mempelai pria dengan wali calon mempelai wanita.

“Ada pun calon mempelai wanita kehadirannya tidak menjadi syarat dalam akad nikah. Jadi, walau pun pengantin perempuan tidak ada di tempat, pernikahan telah sah karena telah diakukan ijab qabul antara wali dengan calon mempelai laki-laki,” tandasnya.

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, KH Aminudin Yakub, menjelaskan mengenai hukum menikah online. Hingga saat ini MUI belum mengeluarkan fatwa mengenai menikah online.

“Terdapat dua perbedaan pendapat ulama mengenai sah dan tidaknya pernikahan yang dilakukan secara daring ini,” jelas dia dalam dakwah online MUI melalui Zoom.

Dalam fiqih kontemporer ada yang telah membahas mengenai pernikahan online, meski terdapat ikhtilaf (perbedaan pandangan).

Kiai Aminudin menjelaskan dalam pernikahan terdapat rukun akad nikah. Salah satunya adalah ijab kabul yang diucapkan wali dari mempelai wanita dan dijawab oleh mempelai laki-laki. Para ulama dalam ijab kabul mensyaratkan harus menggunakan lafal nikah.

“Tidak boleh menggunakan lafal lain karena di dalam lafaz nikah terdapat ketentuan hukum dan ketika mengucapkan ijab harus dilakukan secara bersambung tanpa jeda dengan kabul,” jelas dia.

Syarat lain adalah ijab kabul harus dilakukan dalam satu majelis. Pada syarat tersebut ada pertanyaan, apakah satu majelis ini harus benar-benar dalam satu ruangan yang sama atau bisa berbeda tempat tapi dalam satu kondisi yang sama misal sedang melakukan panggilan video, atau taklim yang dilakukan secara online?

Kiai Aminudin menjelaskan lebih mendalam, bahwa ada ulama yang tegas melarang pernikahan dengan alat komunikasi ini karena pernikahan adalah akad yang sakral bukan sekadar muamalah biasa. “Sehingga perlu dihadiri secara langsung kedua belah pihak di ruangan yang sama,” tutupnya.

Uncategorized