Ini Cara Menjinakkan Kutilang yang Masih Giras

Ini Cara Menjinakkan Kutilang yang Masih Giras

TANDA-BACA.CO.ID – Burung Kutilang termasuk burung yang layak dijadikan klangenan dirumah, walaupun orang pada umumnya memandang rendah burung kutilang, jorok, rakus, kicauan perusak dan lain sebagainya.

Padahal burung kutilang oke punya, bisa menyanyikan berbagai isian suara burung lain, tidak kalah dengan burung cucak ijo.

Berikut cara menjinakkan burung kutilang yang dibeli dari ombyokan di pasar. Sampainya di rumah setelah burung di pindahkan ke dalam sangkar, burung akan kaget dan selalu grabak-grubuk, dan biasanya burung akan malas ngoceh, kecuali suasananya sepi, saat tidak ada orang biasa burung kutilang akan curi – curi situasi, untuk sekedar berbunyi, atau menyauti burung kutilang liar yang sedang lewat.

Burung kutilang yang masih giras paruhnya akan selalu menerobos sela-sela sangkar, akibatnya acap luka dan berdarah di sekitar pangkal paruhnya. Saat itulah, pemilik amatiran biasanya merasa frustasi atau mungkin stres menghadapi peliharaan yang selalu grabakan melihat manusia.

Niat hati ingin menikmati kicauan, dan tingkah menggemaskan burung, malah pemelihara yang jadi sedih meratapi burung yang sedang dipelihara. Masih liar, sambil berharap burung bisa cepat jinak dan gacor sepanjang hari.

Kejadian ini pasti pernah dialami pemula. Tidak ada yang instan, ada tahapannya untuk mendapatkan burung yang jinak dan gacor (kecuali memang memelihara burung tersebut dari anakan/lolohan, pasti dia akan jinak setelah besar nanti).

Semua ada tahapannya, dengan kesabaran dan ketelatenan, dalam waktu 2 bulan lebih, biasanya burung kutilang giras, pasti akhirnya bisa jinak dan jadi sangat manja dengan orang yang mendekat ke sangkarnya.

Paruhnya selalu dibuka, meminta disuapi makan, dan ocehannya pun menjadi bagus, bervariasi, dan rajin setelah jadi jinak.

Jinak dalam artian disini adalah, burung tersebut sudah terbebas dari tekanan hidup berdampingan dengan manusia. Jadi dia, secara otomatis bebas pula dalam mengeluarkan ocehan-ocehan indahnya.

Untuk mendapatkan cara perawatan yang baik, itu tentu harus dimulai dari bahan dasarnya.

Mulai dari, saat penggemar kutilang memilih-milih kutilang di dalam sangkar ombyokan, di pasar.

Pilih kutilang yang makannya paling lahap dan memiliki paruh yang agak tebal dan besar, karena kutilang seperti itu pasti suaranya lantang dan keras.

Pastikan pula saat beli burung bahan, dia sudah mau makan pur. Karena agak repot jika burung belum bisa makan pur.

Untuk jaga-jaga, jangan jangan pemilik atau pemelihara tidak punya waktu untuk memberikan makanan (misal pergi 2 hari ke luar kota), dan buah yang disediakan di kandang cepat habis dilahap si burung.

Tak menutup kemungkinan burung akan kehabisan buah di sangkarnya dan bisa menyebabkan kematian karena burung kelaparan.

Jadi sebelum membeli, tanyakan kepada penjual burung, apakah burungnya sudah makan pur atau belum, dan lihat juga di kandang ombyokannya terdapat cepuk tempat pur atau tidak. Kalau ada, besar kemungkinan burung bahan tersebut sudah makan pur.

Sesampainya di rumah, gantung saja sangkar di tempat agak rendah dan ramai, kalau bisa setinggi badan kita, agar dia bisa cepat menyesuaikan dengan kehidupan lalu lalang manusia. Kalaupun dia grabakan, itu adalah hal yang wajar terjadi pada burung yang masih liar dan hal ini juga merupakan proses yang harus dilalui dalam memelihara burung.

Jangan melihati burung yang digantung rendah, karena biasanya burung yang masih liar jika dilihatin terus, dia akan ketakutan. Biarkan saja, seolah-olah lewat tanpa melihat burung tsb.

Selalu rutin memandikan burung untuk mengurangi kegirasan atau keliaran burung tsb. Sebelum memandikan burung, keluarkan dulu tempat makannya. Lalu mulailah semprot burung sampai basah kuyup dan sudah tak grabakan lagi, dan jemur letakkan sangkar di tanah di bawah sinar matahari.

Ini dilakukan dengan tujuan, walaupun burung tersebut hanya bisa diam kedinginan sambil mengibas bulu, jadi dia tahu manusia yang lalu lalang di dekatnya bukan merupakan ancaman berbahaya bagi si burung tersebut.

Disaat menjemur burung, cobalah suapin burung tersebut dengan pisang atau jangkrik pakai lidi yang agak panjang (kira-kira 40cm) dan jangan kependekan, karena kalau kependekan burung tidak akan mematuk jangkrik atau pisang yang diberikan.

Kalau burung mau mematuk dan makan dari lidi, ulangi trus sampai burung merasa kenyang dan berhenti mematuk dan makan dari lidi.

Ulangi hal ini setiap hari walaupun tidak ingin memandikan burung. Pendekkan penggunaan lidi yang kita gunakan dari hari ke hari. Lakukan hal ini setiap pagi, dan kalau bisa setiap mau menyuapi burung, keluarkan dulu tempat makannya.

Kalau burung udah agak bisa tenang dan nggak takut lagi jika didekati orang, coba beri ulat langsung dari tangan kita, pertama berikan dulu 1 ulat, kalau dia mau, kasih lagi. Dan jika dia minta lagi, cobalah diberi lagi tetapi saat dia mau mematuk ulat dari tangan, tarik ulatnya dan jangan sampai dia dapat.

Dimain-mainkan saja dulu, kalau dia terus minta sambil klepek-klepekin sayapnya, bisa dikatakan dia sudah bergantung dengan pemelihara. Nah, disini coba memasukkan tangan dan coba elus dada dan punggungnya.

Kalau dia menjulurkan lidahnya ambil menikmati elusan kita, bisa dikatakan burung tersebut sudah jinak dan siap menghibur setiap hari dengan kicauan indahnya.

Sabar. Ya, ini merupakan hal non-teknis yang harus dimiliki pehobi burung dalam menggapai sesuatu.

Uncategorized