Aku Jual Sate Burung Engkak ke Gendaruwo Pohon Preh

Aku Jual Sate Burung Engkak ke Gendaruwo Pohon Preh

TANDA-BACA.CO.ID – Aku jual sate burung engkak ke gendaruwo penunggu pohon preh tua yang tumbuh lebat di sebuah kuburan. Aku dapat bayaran, uang gaib dan sejak itu, aku kaya kembali. Apakah aku berdosa?

Cerita ini disarikan dari cerita berjudul ‘gila, demi uang nekat jualan sate di kuburan’ yang disarikan dari situs online angkerindigoblogspotcom. Saya atau aku –dalam hal ini bukan penulis cerita aslinya, tetapi si empu cerita.

Saya bekerja di pemasaran media cetak,seperti majalah, tabloid dan koran.usaha ini memang cukup menguntungkan bagi kami, ya setidaknya cukup untuk kelangsungan hidup kami sekeluarga.

Namun setelah merebaknya media online, yang bisa dibaca lewat hand phone, membuat penghasilanku menurun, mungkin karena semakin banyak orang membaca berita ataupun mencari informasi via internet atau media online yang dirasa lebih praktis dan cepat.

Walaupun begitu saya masih untung masih ada media cetak yang terbit secara berkala seperti tabloid dan majalah, sehingga usahaku masih berjalan dan bertahan.

Namun saya masih tetap bersyukur karena melalui bisnis ini teman, dan kenalan saya bertambah banyak dan pergaulanku semakin luas.

Dari pergaulan yang luas itu pada suatu hari saya berkenalan dengan Herman, salah satu pebisnis barang-barang bertuah seperti Bambu pethuk, samurai,uang kuno, kol buntet, batu akik, dan jenglot.

Dari ceritanya yang semenarik itu, membuat saya tertarik untuk mengikuti bisnisnya, sebab kelihatannya menjanjikan perubahan nasibku, untuk mencapai kekayaan.

Saya pun mulai terjun dan terlibat bisnis ini, seperti mencari pembeli maupun mencari barang-barang bertuah.

Hampir setiap hari saya dan Herman pergi keluar kota untuk menawarkan dan membeli barang-barang bertuah, yang harganya puluhan juta rupiah, sehingga terpaksa menguras uang tabungan saya dari hasil usaha media cetak. Akibatnya sedikit demi sedikit tabungan saya akhirnya habis.

Baru belakangan ini baru saya ketahui herman ini ternyata salah satu sindikat penipuan dengan modus barang bertuah.

Herman dan teman-temannya, berulang kali meminta transfer uang kepadaku dengan dalih untuk menemui pembeli barang bertuah, ketika saya tidak bisa pergi bersama untuk mengantarnya. Yang mana para calon pembeli selalu ada di kota-kota besar entah di jakarta, bandung, surabaya, semarang, dan kota-kota lain yang jauh dari tempat tinggalku.

Entah kenapa masih terbuai angan-angan yang belum terbukti menjadi https://www.paperwritings.com kenyataan, barang yang saya beli dengan harga puluhan juta rupiah berharap mendapat imbalan hasil milyaran rupiah tidak satupun yang terbukti.

Banyak alasan yang Herman dan temannya katakan diantaranya samurainya gagal tes tidak bisa memotong paku lah, bambu pethuknya kurang baguslah,yang jelas pandai-pandainya mereka beralasan.

Akhirnya saya mengalami pailit, dan kebangkrutan, belum lagi menanggung hutang jutaan rupiah. Serta barang-barang milikku terjual habis seperti mobil dan sertifikat rumah juga telah digadaikan sebagai jaminan hutang uang di Bank.

Untuk menghidupkan usaha media cetak saya yang sudah hancur. Karena sudah terlanjur basah tercebur di jurang kenistaan membuat ragaku limbung, pikiran dan jiwaku kalut, membuatku depresi berat.

Suatu malam saya berjalan kaki menyusuri tempat-tempat sepi, melepaskan diri dari hiruk pikuk dan keramaian untuk mencari jalan hidup dan penghidupanku yang mengalami kebangkrutan.

Tanpa terasa perjalanan yang saya tempuh sudah begitu jauh dan melelahkan,hingga saya terperosok di tengah makam terdapat tumbuhan pohon Preh besar.

Pohon itu tumbuh liar dan besar-besar disana-sini tidak beraturan di hamparan pemakaman yang tidak begitu luas, yang dipenuhi batu nisan tampak usang.

Dibawah pohon preh yang begitu besar itu aku duduk termenung, pikiranku bergolak tidak menentu meratapi langkahku yang salah dan tertipu.

Ditengah lamunanku tiba-tiba saja muncul makhluk tinggi besar, tubuhnya di penuhi bulu-bulu hitam, matanya merah dengan sorot yang tajam, menatapku dengan bengis dan tidak bersahabat, saya pun seketika ketakutan, berkeringat dingin, diantara rasa takutku yang hebat itu, tiba-tiba saja dia mengeluarkan suara yang menggelegar.

Sosok misterius mirip gendruwo itu mengeluarkan wangsit agar saya mencari burung engkak (burung mirip gagak, berbulu hitam, tetepi tubuhnya lebih kecil dan paruhnya merah), untuk tumbal ritual pesugihan dan yang di makam wulung ini. Tanpa berpikir panjang saya beranjak dan bergegas pulang, dan berniat akan menjual sate burung engkak ke genderuwo

Namun, meski di sudut-sudut pasar burung telah ditelusuri tidak ada pedagang yang menjajakan sate burung engkek, yang belakangan diketahui ternyata burung tersebut termasuk burung dilindungi.

Karena penasaran ingin membelinya, saya kembali menghubungi Herman lewat telepon, padahal sebelumnya Herman dan sindikatnya telah menipuku, kabur dan tidak tau kemana rimbanya.

Untung saja Herman mau mengangkatnya , lewat telepon saya tanyakan penjual gelap burung engkak yang dimaksud dan yang wulung tersebut. Saya sengaja memilih menghubungi Herman karena dia berpangalaman bergerak di dunia hitam.

Dari Herman saya disuruh mendatangi sebuah desa di bukit terpencil di Jawa Timur. Didesa tersebut harus menemui mbah Salam, salah seorang dukun yang juga menjual burung engkak, disana mbah Salam juga memberi informasi bagaimana cara melakukan ritual pesugihan sate burung engkak.

Burung sekecil itu saya beli dengan harga tujuh juta rupiah. Saya langsung melanjutkan perjalanan menuju makam wulung untuk meraih mimpi kehidupan menjual sate burung engkak ke Genderuwo.

Tepat tengah malam anggoro kasih saya sudah sampai di bawah pohon preh yang saat itu. Disana saya menyembelih, menguliti, dan mencincang daging burung engkak menusuknya menjadi 9 tusuk, dengan berlandaskan batu bata dan kayu, kemudian saya bakar sate burung engkak tersebut tanpa bumbu.

Aroma bau amis dan anyir yang berasal dari daging burung engkak ini menyengat dihidungku,yang rupanya aroma bakaran sate ini merangsang penciuman gendruwo dari makam wulung.

Tanpa diketahui dari mana datangnya ,Gendruwo itu sudah ada dihadapanku dan mencoba merebut paksa sate daging burung dari tanganku, untung aku segera tanggap,sate itu saya genggam erat-erat.

Dari perebutan tadi terjadilah dialog perjanjian antara saya dan dayang makam wulung ini. Gendruwo meminta sate burung engkak untuk ditukarnya dengan selembar uang kertas senilai seratus ribu rupiah. Setelah perjanjian itu disetujui “jual beli” terjadi. Lantas gendruwo itu pun menghilang bersama dengan suara kokok ayam jantan bersautan, pertanda hari sudah pagi.

Saya melangkah pulang membawa pulang jimat uang selembar ratusan ribu rupiah. sesampainya di rumah uang itu saya masukan kedalam kantong mori berwarna putih bersama seuntai bunga kantil yang harus diganti setiap malam anggoro kasih . Anehnya setiap uang itu di belanjakan,untuk membeli, uang itu selalu kembali ke dalam kantong mori tadi.

Sementara saya tetap mendapatkan uang kembalian dari pemilik toko atau warung tersebut. dengan begitu sedikit demi sedikit uang yang diperoleh berangsur-angsur bertambah banyak. Alhasil mampu menutupi hutang-hutang yang menumpuk dan modal mendirikan bisnis media cetak kembali kuperoleh.

Dengan berjalannya waktu dan berkembangnya usahaku, sesekali dijiwaku terbesit rasa galau dan resah. Kekayaan yang saya peroleh ini diraih dari cara ghaib bertumbal sate burung engkak secara sah.

Tapi disisi lain benakku membisikkan,aku terus mencuri uang dari para pedagang-pedagang yang aku beli dari jimat uang danyang makam wulung, sehingga membuahkan dosa yang bertumpuk-tumpuk.

Lalu, apa uang itu harus aku larung, aku kembalikan di makam itu, Tetapi kadang pikiranku berubah dan hatiku yang paling dalam berontak karena uang jimat itu diperoleh dari hasil jual beli yang berarti sah-sah saja. artinya pesugihan yang diperoleh tidak bertumbalkan jiwa atau nyawa seperti pesugihan lain, tapi entahlah

Uncategorized